Showing posts with label Ikan. Show all posts
Showing posts with label Ikan. Show all posts

Thursday, 5 February 2015

Musim Pemijahan Ikan Kembung (Restrelliger sp.)



Musim pemijahan ikan kembung perempuan berlangsung selama beberapa bulan, dari Mei – Oktober di Tanjung Satai (Kalimantan Barat). Ikan kembung lelaki mempunyai dua musim pemijahan di Laut Jawa, yaitu berlangsung dalam musim Barat dari Oktober-Februari dan musim Timur dari bulan Juni-September. Jenis ini diduga banyak memijah di sebelah Utara Tanjung Satai, Laut Cina Selatan, Samudera Hindia dan Laut Flores (Burhanuddin et al. 1984).

Waktu pemijahan ikan kembung lelaki diduga berlangsung antara bulan April-Agustus dan Desember dengan puncak pemijahan pada bulan Agustus. Daerah pemijahan diduga sekitar kepulauan Karimun Jawa dan Matasiri (Nurhakim 1993). Sujastani (1974) mengemukakan ikan kembung lelaki bertelur dua kali dalam setahun, dari bulan Oktober-Januari dan bulan Juni-September, sedangkan Burhanuddin dan Djamali (1977) menduga ikan kembung lelaki di Teluk Jakarta bertelur dari bulan Februari-April dan dari bulan Juni-September.

Periode pemijahan ikan kembung lelaki di sebelah Barat India berlangsung dalam waktu yang lama, bulan Maret dan berakhir sekitar bulan Oktober atau November (Menon & Radhakrishnan 1974). Musim pemijahan ikan kembung lelaki di Selat Malaka berlangsung pada bulan Mei-Oktober dan Desember-Maret. Lokasi pemijahan diduga terletak dibagian Utara Selat Malaka (Hariati et al. 2005).

Friday, 30 January 2015

Migrasi Ikan Kembung



Ikan kembung merupakan ikan pelagis yang mengadakan migrasi. Ikan kembung lelaki cenderung memilih keadaan faktor lingkungan yang relatif sama dengan ikan layang (Decapterus spp.). Di Laut Jawa dua spesies ikan ini mempunyai pola migrasi yang hampir sama, yaitu pada permulaan musim Timur arus yang bersalinitas tinggi bergerak ke arah Barat di Laut Jawa dan ikan kembung lelaki juga bergerak ke arah Barat yang kemungkinan terus bergerak ke Selat Karimata. Pada musim Barat terjadi pergerakan ikan kembung yang sebaliknya sesuai dengan arus laut. Selanjutnya dia menambahkan bahwa migrasi ikan kembung mengikuti pola yang sama dengan migrasi ikan layang, biasanya satu atau dua minggu kemudian (Hardenberg 1955).

Migrasi ikan disebabkan oleh tiga hal yaitu : mencari daerah yang banyak makanannya, mencari daerah tempat memijah (spawning ground) dan adanya perubahan beberapa faktor lingkungan seperti temperatur, salinitas dan suhu (Nikolsky 1963). Chisastit (1962) menduga bahwa migrasi ikan kembung perempuan dijumpai pada musim pemijahan. Ikan kembung yang mature mungkin sekali pergi ke daerah pemijahan dari daerah pantai, dan ikan juvenil akan ke pantai untuk mencari makan.

Thursday, 15 January 2015

Penyebaran/Distribusi Ikan Kembung (Rastrelliger sp.)



Ikan kembung (Rastrelliger sp.) merupakan jenis ikan diurnal (ikan siang hari) yang banyak terdapat pada lapisan pelagis, yaitu lapisan yang paling banyak cahaya matahari. Ikan-ikan pelagis umumnya muncul ke permukaan sebelum matahari terbenam dan biasanya mereka membentuk kelompok.

Ikan kembung yang tergolong dalam kelompok mackerel ini penyebarannya dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: penyebaran secara vertikal dan horizontal. Penentuan batas penyebaran secara vertikal penting sekali diketahui supaya kedalaman alat tangkap dapat disesuaikan dengan kedalaman renang ikan tersebut. Penyebaran ikan secara horizontal perlu diketahui untuk penentuan daerah penangkapan ikan (Laevastu dan Hayes 1981).

Penyebaran ikan kembung (Rastrelliger sp.) berdasarkan ruang (tempat) atau berdasarkan waktu berhubungan dengan erat dengan pencarian makanan dan pemijahan. Zooplankton merupakan salah satu makanan utama ikan kembung, sehingga penyebaran ikan kembung diduga mengikuti pergerakan horizontal plankton tersebut (M’Boy 2014). Arah arus dapat menjadi penghalang bagi penyebaran jenis ikan, tetapi untuk jenis ikan lainnya arah arus menjadi bantuan bagi penyebarannya. Ikan-ikan perenang bebas seperti ikan kembung, terbang, tenggiri dan lain-lain dapat bergerak melawan arus, sehingga arus tidak menjadi penghalang melainkan membantu penyebarannya (Hardenberg 1955).

Kedalaman kelompok ikan-ikan pelagis banyak ditentukan oleh susunan suhu secara vertikal. Dengan pengertian bahwa ikan pelagis akan berenang sedikit ke sebelah dalam pada saat suhu permukaan lebih tinggi dari biasanya. Ikan kembung merupakan ikan pelagis, epipelagis dan neritik serta menyukai daerah dengan suhu minimum 17oC dan suhu optimum 20oC – 30oC (Wyrtki 1961).

Distribusi ikan kembung lelaki secara geografis sangat luas, kecuali bagian selatan perairan pantai Australia, bagian barat Laut Merah dan bagian timur Jepang. Ikan kembung lelaki daerah penyebarannya hampir terdapat di seluruh perairan Indonesia dengan konsentrasi terbesar di Kalimantan Timur (Tanjung Satai), Kalimantan Selatan (Pegatan), Laut Jawa, Selat Malaka, Sulawesi Selatan dan Arafuru (DJP 1979). Ikan kembung lelaki merupakan ikan pelagis yang sering ditemukan dalam bentuk kelompok besar di permukaan. Makanannya adalah mikroorganisme plankton, terutama crustacea (Fischer dan Whitehead 1974).

Ikan kembung perempuan penyebarannya meliputi Laut Andaman (Indonesia), Thailand, Philipina, dan bagian Utara Kepulauan Fiji (Fischer dan Whitehead 1974). Di Indonesia sendiri penyebarannya meliputi perairan pantai dengan konsentrasi terbesar di Kalimantan, Sumatera Barat, Laut Jawa, Selat Malaka, Sulawesi Tenggara (Muna-Buton) dan Arafuru (DJP 1979). Ikan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) hidup berkelompok dalam jumlah yang besar pada perairan pantai dengan kedalaman antara 10 - 50 m (Fischer dan Whitehead 1974).

Wednesday, 24 December 2014

Mengenal Ikan Kembung (Rastrelliger sp.)

Ikan kembung merupakan ikan pelagis kecil yang termasuk dalam famili Scombridae. Ciri meristik ikan kembung adalah sirip punggungnya terpisah menjadi dua bagian. Sirip punggung pertama berjari-jari keras 10, sedangkan sirip punggung yang kedua berjari-jari lemah 11 - 12. Sirip dada (pectoral) terdiri dari 16 - 19 jari-jari lemah, sirip perut (ventral) terdiri dari 7 - 8 jari-jari lemah, sirip ekor (caudal) terdiri dari 50 - 52 jari-jari lemah bercabang dan sisik pada gurat sisi (linea lateralis) terdiri dari 127 - 130 buah sisik (Collette dan Nauen 1983).

Ikan kembung terdiri atas tiga spesies, yaitu: kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta), kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) dan Rastrelliger faughni.

Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) mempunyai tubuh tidak terlalu mengecil, dimulai dari batas tutup insang 4 sampai 4,8 bagian dari panjang bakunya, kepala lebih panjang dari lebar tubuh, rahang atas (maxilla) ditutupi oleh tulang lakrimal tetapi meluas sampai mendekat ujung lakrimal. Ikan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) tubuhnya mendadak mengecil, lebar pada pinggir tutup insang 3,7 sampai 4 bagian panjang baku tubuh (4 sampai 4,8 bagian pada Rastrelliger kanagurta), kepala hampir sama atau lebih kecil dari lebar tubuh, rahang atas ditutupi tulang lakrimal tetapi meluas sampai mendekat ujung lakrimal. Untuk jenis Rastrelliger faughni tubuh lebih ramping, lebar pada pinggir tutup insang, 4 sampai 4,8 bagian dibandingkan dengan Rastrelliger kanagurta. Rahang atas ditutupi oleh tulang lakrimal tetapi meluas hanya ¾ panjang dari lakrimal (Collette dan Nauen 1983).

Tuesday, 25 November 2014

Bioekologi Ikan Bandeng (Chanos chanos)



Ikan bandeng (Chanos chanos), lebih dikenal dengan sebutan milkfish dan merupakan spesies euryhaline. Di Inggris, ikan ini dikenal sebagai salmon herring, sedang di Jepang dikenal dengan sabahi.

Sebagai spesies euryhaline, ikan bandeng dalam siklus hidupnya selalu bermigrasi ke perairan dengan salinitas berbeda seiring dengan pertumbuhannya. Melewati masa mudanya di perairan pesisir, kemudian seiring dengan kematangan seksual akan beruaya ke laut lepas untuk memijah dekat permukaan pada kedalaman 10 hingga 40 meter yang bersubstrat pasir dan coral (Nontji 1986). Bardach et al. (1982), menyatakan bahwa ikan bandeng akan siap memijah setelah berumur 6 tahun dan dilakukan pada malam hari. Secara alami setiap induk bandeng akan memijah 1 atau 2 kali dalam setahun. Selanjutnya habitat ikan bandeng dari larva hingga dewasa dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Habitat ikan bandeng (Chanos chanos) dari fase larva hingga dewasa (Bagarinao 1991)

Larva ikan bandeng yang baru dipijahkan disebut yolk-sac larvae hingga kuning telurnya diserap. Disebut larva bila ukuran tubuh berkisar antara 6 hingga 10 mm, berumur 2 hingga 3 minggu setelah pemijahan, dan mulai bermigrasi ke perairan pantai (Lee et al. 1986). Sebutan fry diberikan untuk fase akhir dari larva yang berumur antara 3 hingga 4 minggu setelah pemijahan, dengan ukuran panjang tubuh antara 10 hingga 16 mm, yang selanjutnya muncul di perairan pantai, bergerak lincah, dan selalu berada di permukaan secara bergerombol (MandongaBoy 2014). Setelah itu akan memasuki kawasan mangrove, hidup disana hingga berumur ± 3 bulan, kemudian akan bermigrasi kembali ke laut (Lee et al. 1986). Pola distribusi seperti ini berkaitan erat dengan kondisi perairan, seperti ketersediaan makanan, faktor fisik, dan kimia perairan (Boehlert et al. 1985). Warna larva tersebut pada ukuran panjang tubuh antara 10 hingga 12 mm adalah bening (transparan). Pada ukuran panjang tubuh antara 13 hingga 15 mm dengan berat tubuh antara 6 hingga 7 mg, memiliki sebuah titik putih di bagian tengah badan yang berfungsi sebagai gelembung udara (Mardjono et al. 1985).

Larva ikan bandeng yang muncul di perairan pesisir di Indonesia dikenal dengan sebutan nener. Larva ikan ini umumnya ditemukan di perairan pesisir yang jernih, bebas pencemaran, masih dipengaruhi pasang surut, dan bersubstrat dasar pasir atau pasir dengan sedikit berbatu terutama pantai berpasir yang mendapat suplai air tawar (Nontji 1986). Ini dikarenakan larva tersebut dalam fase pertumbuhannya memerlukan salinitas yang lebih rendah untuk berkembang menjadi ikan muda (Mardjono et al. 1985). Penyebaran larva ini banyak ditentukan oleh angin dan arus, terutama arus pasang surut serta ketika angin bertiup ke arah pantai. Muncul di pantai pada saat air mulai pasang atau mulai surut (Watanabe 1986; Nontji 1986; Mardjono et al. 1985; Suseno 1987; Mudjiman 1987).