Showing posts with label Crustacea. Show all posts
Showing posts with label Crustacea. Show all posts

Wednesday, 11 February 2015

Sekilas Tentang Morfologi Rajungan (Portunus pelagicus)



Secara umum morfologi rajungan (Portunus pelagicus) berbeda dengan kepiting bakau.  Rajungan memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan capit yang lebih panjang dan memiliki berbagai warna yang menarik pada karapasnya. Duri akhir pada kedua sisi karapasnya relatif lebih panjang dan lebih runcing. Rajungan hanya hidup pada lingkungan air laut dan tidak dapat hidup pada kondisi tanpa air. Cukup dengan melihat warna dari karapas dan jumlah duri pada karapasnya, maka dengan mudah dapat dibedakan dengan kepiting bakau (Kasry 1996).

Dari beberapa jenis crustacea yang dapat berenang (swimming crab), sebagian besar merupakan jenis rajungan. Sebagai contoh yang banyak terdapat di Teluk Jakarta ada 7 jenis rajungan yaitu Portunus pelagicus, Portunus sanguinolentus, Thalamita crenata, Thalamita danae, Charybdis cruciata, Charibdis natator, Podophthalmus vigil. Namun menurut informasi menyebutkan bahwa ada 11 jenis rajungan yakni Portunus pelagicus Linn, Portunus sanguinolentus Herbst, Portunus sanguinus, Portunus trituberculatus, Portunus gladiator, Portunus hastafoides, Thalatmita crenata Latr., Thalatmita danae Stimpson, Charybdis cruciata, Charibdis natator Herbst, Podophthalmus vigil Fabr. (Nakamura 1990; Soim 1996; Supriyatna 1999), Portunus trituberculatus banyak ditemukan di Jepang, Cina, Taiwan, dan Korea. Menurut Soim (1996) nilai gizi dari bagian tubuh jenis rajungan yang dapat dimakan (edible portion) mengandung protein 65.72%, mineral 7.5% dan lemak 0.88%.

Induk rajungan mempunyai capit yang lebih panjang dari kepiting bakau, dan karapasnya memiliki duri sebanyak 9 buah yang terdapat pada sebelah kanan kin mata. Bobot rajungan dapat mencapai 400 g dengan ukuran karapas sekitar 300 mm (12 inci). Ukuran rajungan antara yang jantan dan betina berbeda pada umur yang sama. Ukuran jantan lebih besar dan berwarna lebih cerah serta berpigmen biru terang, sedang yang betina berwarna sedikit lebih coklat (Cowan 1981). Rajungan (Portunus pelagicus) memiliki karapas berbentuk bulat pipih, sebelah kiri-kanan mata terdapat sembilan buah duri, dengan duri terakhir berukuran lebih panjang. Rajungan mempunyai 5 pasang kaki, yang terdiri atas 1 pasang kaki (capit) berfungsi sebagai pemegang, 3 pasang kaki sebagai kaki jalan, dan 1 pasang kaki berfungsi sebagai dayung untuk berenang. Nontji (1986) menyatakan rajungan mempunyai 5 pasang kaki jalan, kaki jalan pertama ukurannya besar, memiliki capit dan kaki jalan terakhir mengalami modifikasi sebagai alat berenang. Kaki jalan pertama tersusun atas daktilus yang berfungsi sebagai capit, propodus, karpus, dan mems. Sedangkan kaki ke lima mengalami modifikasi pada daktilusnya berbentuk pipih dan menyerupai dayung untuk berenang.

Monday, 1 September 2014

Reproduksi Ketam Kelapa (Birgus latro)

Sistem reproduksi Ordo Malacostraca secara anatomi terpusat pada cephalothorax. Untuk suku Caenobitidae dan Paguraidae khususnya, memiliki sepasang testis dan sepasang ovarium berada pada abdomennya (Rafiani 2005). Kematangan gonad ketam kelapa (Birgus latro) pada umumnya mencapai panjang karapas kurang lebih 5 cm (Whitten et al. 1987). Perkawinan ketam kelapa berlangsung di darat. Telur yang telah dibuahi terletak pada bagian bawah perut atau menempel pada pleopod. Limbong (1983) mencatat bahwa telur yang dimiliki oleh seekor induk berjumlah ribuan. Hampir semua ketam kelapa harus mencari air untuk perkembangan larvanya. Ketam kelapa betina melepaskan telurnya ke laut pada saat pasang tertinggi dan selanjutnya telur menetas.

Ketam kelapa melakukan aktivitas reproduksinya yang ditandai oleh adanya ovigerous pada tubuh. Secara geografis seluruh area tampaknya terjadi musiman, berlangsung pada musim panas baik di belahan bumi utara maupun selatan. Menurut Brown dan Fielder  (1991), pada musim panas biasanya ketam kelapa betina hanya satu kali dalam setahun meletakkan telurnya di negara belahan bumi utara dan selatan. Hasil pengamatan terhadap ketam kelapa di kepulauan Eniwetok menunjukkan betina ovigerous terjadi pada bulan april (pertengahan musim semi) sampai dengan Agustus (akhir musim panas).

Di daerah sub tropis di belahan bumi selatan ketam kelapa betina paling sedikit aktif bereproduksi selama lebih kurang 9 bulan, setiap tahun adalah dari akhir September atau awal Oktober sampai dengan awal Juni pada tahun berikutnya. Sebaliknya di daerah tropik belahan bumi utara dan selatan aktifitasnya tidak bergantung musim, tetapi terjadi sepanjang tahun berdasarkan data yang didapat dari kepulauan Christmas dan Vanuatu (Brown dan Fielder 1991).

Ketam kelapa betina apabila menetaskan telurnya akan bermigrasi dari daratan ke tepi laut, untuk melepaskan telur-telurnya tanpa ketam jantan. Hal ini berbeda dengan ketam darat lainnya, seperti Gecarcoidea natalis yang bila migrasi selalu diikuti oleh ketam jantan (Brown dan Fielder 1991). Hanya ketam kelapa betina yang berpartisipasi dalam reproduksi migrasi (Borradaile 1900).

Di Vanuatu, ketam kelapa akan berada di daerah pantai selama 5-6 minggu (1 bulan) dan biasanya akan kembali ke daratan 4-10 hari setelah melepaskan telur-telurnya. Ketam ini biasanya berkumpul dalam kelompok di sepanjang pantai dan kembali ke darat juga dalam kelompoknya yang kemudian akan berpisah (menyebar) setelah sampai di darat. Migrasi ketam kelapa menuju ke laut dan kembali ke daratan terjadi berdasarkan ritmik dari gelombang dan periodisitas yang sama dari proses penetasan dan pelepasan telur (Brown dan Fielder ,1991).

Helfman (1977) telah melakukan pengamatan terhadap dua ketam kelapa yang melakukan kopulasi di darat. Tidak seperti coenabitidae yang lain, kopulasi pada ketam kelapa berlangsung singkat (sekitar 3 menit) dengan sedikit aktifitas tingkah laku pre dan pasca kopulasi. Ketam kelapa jantan akan memegang cheliped betina dengan capitnya dan berjalan ke depan sampai punggung ketam/kepiting betina berada dibawah, kaki-kaki mereka bersilang dan abdomen memanjang ke balik badan mereka dengan abdomen betina memutar diatas abdomen jantan. Ketam jantan menggunakan coxea yang dimodifikasi dari pasangan kaki kelima periopod untuk mentransfer masa spermatofora ke dan sekitar oviduct betina yang terbuka pada bagian dasar pasangan kaki ketiga periopod (M’Boy 2014).

Untuk inkubasi telur, pada bagian luar di bawah abdomen betina memiliki membran seperti spons yang memberikan perlindungan dari lingkungan yang rentan terhadap penggenangan air baik tawar atau asin. Telur yang sedang berkembang ini terlindung dari perubahan jangka pendek akibat pengaruh eksternal ion-ion anorganik dan air akibat dari paparnya telur dengan air tawar atau laut. Ketika telur semakin matang, membran yang melindungi telur mulai memecah, membuat telur rentan terhadap tekanan osmotik dan ionik jika terpapar dengan air tawar. Pada telur yang telah matang sebagian besar membran telur telah pecah telur bertindak sebagai osmometer akan segera menetas kontak dengan air tawar ataupun air laut (Brown dan Fielder 1991).

Proses vitelogenesis, inkubasi dan pengeluaran telur membutuhkan jalan masuknya air dan ion anorganik. Crustacea teresterial, seperti B. latro dan Gecarcoidea natalis, tidak mudah mendatangi air asin dari habitat normal mereka, harus bermigrasi ke daerah pantai untuk mendapatkan air asin sebelum melepaskan telurnya. Jejak ketam kelapa di daerah pantai dapat ditemukan selama masa inkubasi sampai menemukan daerah yang cocok untuk tempat tinggalnya. Untuk memperkecil dehidrasi dari massa telur, betina ovigerous memerlukan perlindungan terhadap kelembapan tinggi, minimal terbuka untuk dikeringkan dengan angin dan membatasi cahaya matahari (M’Boy 2014). Hal ini kontras dengan kepiting darat lainnya Cardisoma guanhumi, dengan yang bermigrasi ke pantai hanya untuk melepaskan telurnya, kemudian segera kembali ke darat. Air dibutuhkan selama vitelogenesis dan inkubasi telur, tersedia dari habitat “normal” ketam kelapa, dan kalau perlu membangun tempat berlindung sementara selama berada di lingkungan pantai.

Friday, 22 August 2014

Siklus Hidup Ketam Kelapa (Birgus latro)

Ketam kelapa (Birgus latro) selama hidupnya memiliki dua habitat yaitu laut dan daratan. Proses inkubasi dan matang telur berada di daratan, masa penetasan telur berada di daerah pantai kemudian burayak sebagai larva planktonik yang hidup bebas di laut, dan tahap dewasa kembali ke daratan. Ketam kelapa yang sudah dewasa melakukan perkawinan di darat, kemudian ketam betina akan mengerami telur. Ketika telur telah siap menetas, ketam betina berjalan menuju laut untuk melepaskan telur dengan berjalan diatas batu-batuan pada perbatasan daerah pasang surut, sehingga ombak yang datang memecah akan membasahi bagian atas tubuhnya secara teratur. Pada saat telur-telur tersebut kontak dengan air laut, setelah menetas zoea dilepaskan ke dalam laut (Brown dan Fielder 1991).

Telur-telur yang menetas pada tahap zoea pertama lamanya 4-9 hari, biasanya 5-6 hari, pergantian ke tahap zoea kedua dimulai pada hari ke empat dari kehidupan larva dan mencapai puncaknya pada hari ke lima dan hari ke enam. Tahap zoea berlangsung 3 – 15 hari dari kehidupan larva dan sebagian selesai dalam waktu 10 hari. Lamanya tahap zoea ke tiga 3 -18 hari, tetapi biasanya 8-9 hari. Pergantian pada tahap zoea ke empat dimulai tepat pada hari ke 15 dari kehidupan larva dan dilanjutkan kira-kira hari ke 24. Burayak yang mengalami pergantian kulit pada hari ke 18 - 20, biasanya pada hari ke 18-lah pergantian kulit berlangsung sangat aktif. Sedangkan lamanya tahap zoea keempat dan penyempurnaan atau tahap metazoa adalah 6 -12 hari dan akhirnya ketika usia larva 20 -30 hari ketam berada dalam tahap terakhir pergantian zoea untuk berubah ke tahap post larva “glaocothoe” (M’Boy 2014). Shokita et al. (1991) membagi tahap perkembangan zoea mulai dari tahap zoea I hingga zoea V. Pada tahap-tahap ini bentuk tubuh ketam kelapa menyerupai udang. Sesudah tahap zoea V tubuh berubah bentuk menjadi glaucothoe (megalopa). Glaucothoe akan mencari cangkang gastropoda yang kosong sebagai tempat berlindung dan kemudian hidup di perairan dangkal. Ketam kelapa berada dalam cangkang selama kurang lebih 6 bulan (Morton (1991) dalam Sahami (1994). Ketam kelapa bermigrasi dan memulai hidupnya di darat setelah menjadi juvenil.

Kadang-kadang tahap zoea ke lima ini terjadi, tetapi sedikit sekali pengetahuan tentang lamanya zoea ke lima. Biasanya tahap zoea ke lima ini sama seperti tahap zoea ke empat yaitu kurang dari enam hari. Tahap ini penting karena memperhatikan campuran antara karakteristik zoea dan “glaucothoe” jika diperhatikan pada umbai dada yang berhubungan dengan lipatan tertutup cephalothorax dan banyaknya setae pada pleopod dan abdomen. Ciri lainnya adalah bentuk telson dan perlindungan terhadap segmen abdomialnya.

Fase post larva “glaucothoe” merupakan tahapan yang terpenting dalam pertumbuhan Birgus latro. Pada tahapan ini terjadi perubahan seperti amphibi. Perkembangan selanjutnya telah dapat berenang dengan menggunakan pleopodnya atau bergerak perlahan-lahan di daratan. Pada tingkatan ini ketam tersebut mulai menggunakan cangkang. Biasanya “glaucothoe” memilih cangkang gastropoda yang kecil dan bermigrasi dari lautan ke daratan. Seperti halnya tingkah laku yang khas sebagai anggota infra ordo Anomura (kalaumang). Setelah itu bergerak perlahan-lahan menuju daratan, “glaucothoe” berjalan dengan kulitnya yang sangat kecil dan bila sudah dewasa akan mengubur dirinya dalam rangka mempersiapkan diri untuk berganti kulit. Setelah tahap ini ketam kelapa tersebut menggali lubang dan terjadi pergantian kulit pada hari ke 28, ketam ini muncul sebagai ketam mudah pada hari ke 36. Setelah perubahan bentuk mereka memakan kerangka luarnya yang lebih tua.

Kecuali sebagai larva, ketam kelapa (Birgus latro) tidak berenang bahkan spesimen kecil akan tenggelam dalam air. Mereka menggunakan organ khusus yang disebut “paru-paru branchiostegal” untuk bernafas. Organ ini dapat ditafsirkan sebagai tingkat perkembangan antara insang dan paru-paru, dan merupakan salah satu adaptasi paling signifikan dari ketam kelapa terhadap habitatnya. Ruangan dari organ pernafasan ini terletak bagian belakang cephalotoraks. Di organ ini terdapat jaringan yang sama seperti pada insang, namun cocok untuk penyerapan oksigen dari udara, bukannya di air. Mereka memakai kaki terakhir yang paling kecil untuk membersihkan organ napas ini, dan untuk membasahinya dengan air laut. Organ itu memerlukan air agar berfungsi, dan ketam ini memenuhi hal ini dengan menekan kaki yang dibasahi pada jaringan spons didekatnya. Ketam kelapa juga bisa meminum air laut, menggunakan cara yang sama untuk mengambil air ke mulutnya.

Selain organ pernafasan ini, ketam kelapa mempunyai kumpulan insang rudimenter tambahan. Namun sewaktu-waktu insang ini kemungkinan digunakan untuk bernafas dalam air pada sejarah evolusi jenis ini, mereka tidak lagi menyediakan cukup oksigen, dan ketam yang terbenam di air akan tenggelam dalam waktu beberapa menit (laporan beragam, mungkin tergantung tingkat stres dan latihan serta konsumsi oksigen yang dihasilkan).

Penggunaan cangkang gastropoda yang kosong pada fase “glaucothoe” dan ketam kelapa mudah merupakan adaptasi tingkah laku yang berhubungan dengan keberhasilan emigrasi ketam kelapa dari lingkungan perairan laut ke daratan. Tingkah laku ini dilakukan sebagai cara untuk melindungi diri dari kekeringan dan berbagai ancaman yang terjadi dalam fase yang rentan dalam siklus hidup hewan ini.

Biasanya setiap kali berganti kulit ketam kelapa juga akan mengganti rumah keongnya. Penggantian rumah tersebut disesuaikan dengan pertambahan ukuran tubuh. Tingkah laku yang demikian menjadikan ketam ini sebagai hewan pembawa cangkang dan dapat berlangsung selama dua setengah tahun. Namun demikian di Enowetok ditemukan ketam kelapa terkecil yang berukuran karapas 22 mm dan di Guam sekitar 8,4 mm keduanya tanpa rumah cangkang. Hasil penelitian di pulau Christmas menunjukkan ketam kelapa mempergunakan cangkang Trochus sp. hingga berumur 9 bulan. pada ketam berukuran lebih kecil yang tidak menemukan cangkang untuk tinggal, akan berlindung di dalam hutan hingga berumur 12 bulan.

Ketam kelapa pada fase kalaumang atau hidup dengan cangkang gastropoda, bersifat semi-teresterial dan karakteristik hidup pada mintakat supra litoral yang berpasir, dan pada siang hari dapat ditemukan berkumpul di bawah semak-semak dan diantara reruntuhan pohon yang mati dan kayu. Ketam kelapa mempunyai tingkah laku yang menarik, pada fase kalaumang hidup di mintakat litoral hingga supralitoral dan jarang ditemukan pada daerah di atas mintakat supralitoral. Ketam kelapa dewasa ditemukan di atas mintakat supralitoral yaitu pada celah atau lubang karang atau pohon. Liangnya ditemukan berkisar antara 100 – 200 m dari garis pantai, walaupun pada daerah yang jauh dari pantai sekalipun dapat ditemukan, diduga hal ini berhubungan dengan sifat reproduksinya yaitu pada masa bertelur, ketam kelapa betina akan kembali ke laut untuk melepaskan telur.

Ketam kelapa akan mencapai matang gonad ketika mencapai umur 3,5 dan 5 tahun. Pada umur tersebut ketam kelapa akan kembali melakukan aktifitas perkawinan dan memulai siklus hidupnya dengan melepaskan telurnya ke laut. Telur-telur ketam kelapa yang telah matang berwarna abu-abu kekuning-kuningan dengan titik mata yang terlihat jelas.

Thursday, 14 August 2014

Distribusi Ketam Kelapa (Birgus latro)





Ketam kelapa (Birgus latro) atau kepiting kenari tersebar di Indo – Pasifik (Brown dan Fielder 1991). Whitten et al. (1987) dalam Sahami (1994), melaporkan bahwa ketam kelapa dulunya tersebar luas di seluruh pasifik barat hingga Samudera Hindia bagian timur, tetapi sekarang terbatas pada pulau-pulau kecil. Di Aldabra dilaporkan masih terdapat ketam ini di Kepulauan Seychelles diperkirakan sudah punah. B. latro juga tersebar di pulau-pulau kecil di wilayah pantai Tanzania dan Sentinal selatan (Andaman dan Nikobar), kepulauan Keeling dan Mauritius. Di Filipina sekarang dilaporkan hanya terdapat di pulau Ilongo dan sebagian di pulau Cebu. Di kawasan Pasifik ketam ini dapat dijumpai di Timor, kemudian menyebar ke belahan bumi utara sampai Ryukus, Fiji dan kepulauan Marshall kecuali kepulauan Hawaii, Wake dan Midway. Di Papua Nugini dapat ditemukan di Provinsi Manus, yakni di Rantan, Sae dan Los Negros (PPSDAHP 1988).





Gambar 1. Distribusi ketam kelapa



Di Indonesia, ketam kelapa (Birgus latro) hanya tersebar di kawasan Indonesia Timur yaitu di pulau-pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua. Di Sulawesi, ketam kelapa terdapat di wilayah Kepulauan Kawio, Talaud, Sangihe (Sulawesi Utara), Pulau Siompu, Tongali, Kaimbulawa dan Liwutongkidi (Sulawesi Tenggara) (Ramli 1997), sedangkan di Nusa Tenggara terdapat di pantai berbatu Pulau Yamdena (Monk et al. 2000), dan Kalimantan terdapat di Pulau Derawan.