Friday, 6 June 2014

Respon Stress Hyperglycemia pada Crustacea


Hyperglycemia adalah respons khas pada beberapa hewan akuatik yang diakibatkan oleh perubahan lingkungan secara fisik dan kimia. Pada crustacea meningkatnya sirkulasi CHH dan hyperglicemia terjadi mengikuti pemaparan terhadap beberapa stressor lingkungan tetapi tidak terjadi pada hewan yang tidak memiliki tangkai mata (eyestalkless). Hal ini terlihat dalam gambar 1.
Gambar 1. Respon stress pada crustacea
Stres disebabkan oleh perubahan parameter lingkungan. Proses penanganan selama transportasi memerlukan pengaturan homeostatik yang dapat menyebabkan perubahan tentang perilaku dan fisiologis pada hewan air.
Konsentrasiglukosa hemolymph dapat berubah secara signifikan dengan kondisi fisiologis dan lingkungan berubah. Paparan udara selama transportasi dan hipoksia dapat menimbulkan hiperglikemia pada banyak spesies crustacea seperti lobster berduri Jasus edwardsii, kepiting Eriocheir sinensis, kepiting laba-laba Maia squinado dan lobster Norwegia Nephrops norvegicus. Hiperglikemia juga dilaporkan pada udang galah Macrobrachium rosenbergii sebagai respon terhadap kejutan dingin.
Hyperglycemia dan release laktat pada hemolymph adalah respon metabolik sekunder pada penanganan stres udang penaeid (Simon et al. 2010). Bagaimanapun juga, peningkatan laktat terjadi sebelum hyperglikemia, memungkinkan proses glukoneogenesis sebagai jalur pembersihan utama dari laktat. Perubahan catecholamine pada beberapa jaringan mungkin terjadi sebagai mediator (respon stress primer) dari beberapa perubahan metabolik yang diamati pada udang penaeid (Simon et al. 2010). Peningkatan cepat epinephrine pada hepatopankreas mengindikasikan bahwa epinephrine dapat memediasi penyerapan laktat, glukoneogenesis dan katabolisme lipid pada hepatopankreas. Respons susulan dari release norepinephrine pada eyestalk berfungsi sebagai mediator pada efek laktat pada level respon stres primer (Simon et al 2010).
Kadar glukosa darah meningkat pada P. elegans dan spesies crustacea lainnya setelah penyuntikan lipopolisakarida (LPS) dan efek hiperglikemia, kemungkinan dimediasi oleh CHH karena tidak terjadi pada hewan eyestalk less. Ini adalah hubungan dosis dan ketergantungan pada perbedaan bakteri gram negatif LPS .
Logam berat seperti Cd, Hg, dan Cu menyebabkan hiperglikemia pada udang galah, Macrobrachium kistenensis, kepiting, Barytelphusa canicularis  dan S. serrata. Studi terhadap efek dari logam berat pada tingkat glukosa darah pada P. elegans menunjukkan bahwa konsentrasi sub lethal intermediate dari Hg, Cd dan Pb menghasilkan respon hyperglicemic signifikan sedangkan konsentrasi tertinggi tidak menimbulkan hiperglikemia dalam 24 jam. Sebaliknya, sampel yang terpapar Cu dan Zn menunjukkan hiperglikemia bahkan mencapai konsentrasi tinggi. Perbedaan dalam respons dapat dijelaskan berdasarkan peran fisiologis kedua unsur penting pada crustacea, dan konsekuensi adaptasi toleransi, sebagai lawan dari toxic, logam berat xenobiotic Cd, Hg dan Pb. Di sisi lain kedua kelompok logam berat gagal mendatangkan tanggapan hiperglikemia pada hewan yang tangkai matanya diablasi menunjukkan keterlibatan (MandongaBoy 2011) hormon MTXO-SG, CHH yang paling mungkin. Namun, meskipun kekayaan informasi mengenai variasi kadar glukosa darah berikut stres, sedikit banyak diketahui dengan variasi stress pada level CHH dalam kelenjar sinus dan di hemolymph.
Pada lobster Orconectes limosus yang mengalami hipoksia, titer CHH menyebabkan kenaikan dalam waktu 15 menit (dalam Lorenzon, 2005). Pada Cancer pagurus menginduksi sebuah peningkatan pada CHH hemolymph setelah 4 jam. Menggunakan ELISA Chang et al. (1998) mengamati variasi dalam CHH darah pada Homarus americanus setelah terekspos berbagai stress lingkungan. Selain itu peningkatan suhu air meningkatkan CHH darah pada C. pagurus dan P. clarckii. Hasil pengamatan pada C. maenas menunjukkan konsentrasi CHH pada hemolymph meningkat secara dramatis selama molting dari 1-5 fmol 100μL-1 pada intermolt diatas 150-200 fmol 100μL-1 selama ecdysis. Variasi titer CHH hemolymph juga diamati pada N. norvegicus yang terinfeksi oleh parasit dinoflagellata Hematodinium sp
Penggunaan tes ELISA dan bioassay baru-baru ini menunjukkan hubungan antara suatu stressor lingkungan dan release CHH dari eyestalk ke hemolymph dan respon hiperglikemia pada udang P. elegans.  Pemaparan Cu pada P. elegans dipengaruhi hubungan dosis yang cepat dan massif dalam melepas CHH dari eyestalk ke dalam hemolymph yang lebih tinggi. Konsentrasi lethal (mematikan) saat pelepasan secara bertahap dan berkurang diamati pada konsentrasi rendah. Hal ini terlihat pada gambar 3 (Lorenzon 2005).


Hubungan antara paparan toxic dan release CHH dikonfirmasi dalam variasi glukosa darah dengan dosis terkait hiperglikemia yang memuncak 2 jam setelah terpapar Cu. Hal ini dapat dilihat pada gambar 4. (Lorenzon 2005).


Pemaparan pada konsentrasi sub lethal dari Hg menunjukkan hubungan kuantitatif yang sama dan waktu antara toksik, release CHH dari eyestalk, peningkatan kadar hormon dalam hemolymph dan hyperglycemia sebagaimana telah dijelaskan pada kontaminasi Cu. Menariknya, bagaimanapun konsentrasi tertinggi mematikan yang disebabkan pelepasan CHH dari eyestalk ke hemolymph tetapi tidak diikuti dengan variasi yang signifikan dalam glukosa darah gambar 5, 6. ( Lorenzon 2005).

Situasi ini dapat dikaitkan pada toksisitas tinggi Hg yang mungkin mengganggu mekanisme halus yang mengatur respon hiperglikemia. Hal ini tidak disebabkan penyumbatan sinaptik dari syaraf yang dilapiskan keatasnya dalam rilis jaringan atau rilis terbatas dari sirkulasi CHH pada level CHH yang tinggi dilepaskan/dikeluarkan dari SG ke hemolymph. Hal ini bukan karena penghambatan dari reseptor perifer pada organ target glycogenolytic: tentunya SG homogen disuntikkan ke udang yang eyestalkless pada konsentrasi lethal Hg selama 3 jam masih dapat menyebabkan hiperglikemia (Lorenzon et al. 2000.). Sebaliknya, konsentrasi tinggi dari Hg, dapat mengubah fungsionalitas dari Pre pro-CHH yang diproses selama langkah sekresi dan karena kemampuannya untuk mengikat cysteines - enam yang menggambarkan (MandongaBoy 2011) fitur awet yang tinggi dari struktur peptida. -Hg mungkin mengubah konfigurasi aktif peptida, seperti yang terlihat dalam sistem lain, tetapi bukan immunoreactivity-nya. Selain itu Hg diketahui merusak mekanisme osmoregulatory kepiting, Eriocheir sinensis dan menghambat aktivitas acetyl cholinesterase P. clarckii. Respon perubahan/pergantian P. elegans terpapar pada konsentrasi tinggi Hg juga mungkin terkait dengan perubahan fisiologis yang diinduksi oleh Hg pada level sistemik yang berbeda (Lorenzon et al. 2004.). Kontaminasi Cu menginduksi variasi 5-HT dari eyestalk dan hemolymph P. elegans (Lorenzon et.al 2005). Release 5-HT dari eyestalk terlihat sangat cepat dan dosis yang terikat (tergantung dosis). Pada hemolymph 5-HT puncaknya terjadi setelah 30 menit dan lagi konsentrasi dari sirkulasi 5-HT adalah dosis yang terikat (tergantung dosis). Setelah 1 jam level 5-HT perlahan-lahan menurun ke tingkat basal/dasar. Hal ini terlihat pada gambar 7. (Lorenzon 2005).




Monday, 12 May 2014

Aplikasi Vaksin DNA Pada Ikan Teleost Serta Peranannya dalam Aktivasi Sistem Imun (Spesifik dan Non-Spesifik)


Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi manusia karena mengandung omega-3 serta omega-6 yang tinggi. Saat ini ikan merupakan salah satu menu yang wajib tersedia di atas meja makan, khususnya bagi masyarakat di negara-negara maju terutama di Jepang, Cina, Hongkong, dan Eropa. Cara penyajiannya pun bervariasi. Bakar, goreng, sushi, pepes, berkuah/tanpa kuah, tergantung selera lidah masing-masing.
Kebutuhan pasar yang tinggi diimbangi dengan produksi ikan dalam jumlah yang besar melalui sistem budidaya intensif (budidaya air laut, tawar dan payau) dengan tingkat kepadatan tinggi. Akan tetapi, dengan tingkat kepadatan tinggi tersebut menyebabkan ikan rentan terhadap serangan penyakit baik viral maupun bakterial (MandongaBoy 2014). Serangan penyakit terutama yang disebabkan oleh virus masih menjadi salah satu permasalahan utama dalam kegiatan budidaya ikan. Angka kematian kumulatif yang terkait dengan wabah penyakit viral telah memiliki dampak negatif yang besar pada industri budidaya berupa kerugian ekonomi yang cukup signifikan (Gilad et al. 2003), sehingga perlu perhatian khusus dalam penanganannya.
Salah satu upaya pencegahan terhadap penyakit khususnya yang disebabkan oleh infeksi viral dapat dilakukan dengan cara vaksinasi. Sebagai alternatif penggunaan bahan kimia dan antibiotik, vaksin merupakan cara yang menjanjikan untuk mengendalikan patogen menular seperti virus pada ikan budidaya. Salah satu jenis vaksin yang banyak dikembangkan saat ini adalah vaksin DNA. Dibandingkan vaksin konvensional, vaksin DNA menawarkan metode imunisasi yang dapat mengatasi banyak kelemahan terutama risiko infeksi dan biaya tinggi (Verri et al. 2003). Vaksin DNA juga  bersifat stabil dibandingkan jenis vaksin lainnya, sehingga memudahkan dalam penyimpanan dan yang terpenting adalah kemampuan vaksin DNA untuk mengaktivasi sistem kekebalan tubuh baik spesifik maupun non-spesifik (humoral & seluler) (Lorenzen & LaPatra 2005) melalui inokulasi DNA yang mengandung sekuen plasmid DNA asal virus tertentu yang bersifat imunogenik (Faizal 2010).
Penggunaan vaksin DNA pada ikan budidaya hingga saat ini telah banyak diteliti, baik di luar maupun dalam negeri, dan hasilnya pun menunjukkan sesuatu yang sangat menjanjikan bagi perkembangan dan keberlanjutan industri budidaya perikanan. Aplikasi vaksin DNA terhadap beberapa jenis ikan telah menunjukkan efektifitas yang tinggi, dengan tingkat kelangsungan hidup ikan yang divaksinasi dapat mencapai 80-90% (MandongaBoy 2014). Seperti yang telah diujikan pada ikan rainbow trout untuk infectious haematopoietic necrosis virus (IHNV) oleh Anderson (1996) serta Kim (2000) dan viral haemorrhagic septicaemia virus (VHSV) Lorenzen (1998); Boudinot (1998); Lorenzen (2002); Lorenzen & LaPatra (2005), ictalurid herpes virus 11 (IHV-1) pada channel catfish (Ictalurus punctatus) (Nusbaum 2002), serta KHV pada ikan mas (Nuryati 2010). Berdasarkan data hasil uji coba penggunaan vaksin DNA tersebut, menunjukkan bahwa vaksin DNA dapat memicu dan meningkatkan respon sistem imun ikan, baik imunitas bawaan (non-spesisifik) maupun imunitas adaptif (spesifik) sehingga ikan menjadi kebal terhadap inveksi virus.
Respon kekebalan (sistem imun) tubuh terdiri dari pertahanan bawaan dan pertahanan adaptif (Nehyba et al. 2002). Ikan teleost memiliki sistem pertahanan antiviral bawaan (non-spesifik) berupa interferon (IFN) yang memainkan peran yang krusial pada respon imunitas non-spesifik saat inveksi virus dengan memproduksi dan mensekresikan IFN-a/β (Gahlawat et al. 2009; Robertsen 2008). Interferon menghasil interferon regulatory factor (IRF) yang merupakan regulator utama pada sistem imun nonspesifik terhadap inveksi viral (Bergan et al. 2010, berperanan penting dalam aktivasi transkripsi gen IFN dan memiliki pengaruh utama dalam memahami mekanisme molekular patogen yang menginduksi respon antivirus bawaan dan merupakan regulator kunci dari ekspresi gen IFN pada saat induksi virus (Yao et al. 2012; Honda 2006).
Respon imun adaptif diinduksi oleh antigen yang disajikan oleh molekul Major Histocompatibility Complex (MHC) (Nehyba et al. 2002), yang mengaktifkan ekspresi sel imun seperti CD4 dan CD8 yang berfungsi untuk mengikat antigen/virus, pertahanan sel dan mengeliminasi antigen/virus (Yanuhar 2011). Respon imun dimulai oleh sel-sel APC (antigen presenting cells) yaitu sel-sel dendrit maupun makrofag setelah vaksinasi dengan vaksin DNA. Sel-sel APC yaitu makrofag dan sel-sel dendrit berisi plasmid DNA yang kemungkinan akan ditranskripsi dan ditranslasi sehingga menghasilkan protein imunogenik, menyembunyikan adanya infeksi patogen intraseluler (cytosolic pathway) dan berikutnya mempresentasikan antigen berupa protein asing di permukaan sel.
Molekul MHC menyajikan peptida endogen ke sel T sitotoksik serta peptida eksogen ke sel T helper (Rakus et al. 2003). MHC bertugas untuk memonitor patogen intraseluler dan terjadinya tumor yang pada gilirannya dapat menghilangkan sel-sel yang terinfeksi dengan mekanisme sitotoksik, menyebabkan aktivitas sel fagositik, produksi antibodi, dan aktivasi sifat imunologi yang terlibat dalam eliminasi parasit, bakteri, jamur dan netralisasi virus (Moulana et al. 2008; Rakus et al. 2009).
Aktivasi respon imun sebagaimana telah diuraikan di atas, dapat berlangsung akibat adanya induksi dari gen glikoprotein yang berasal dari virus tertentu, yang secara sengaja disisipkan pada konstruksi vaksin DNA. Dengan pemberian vaksin DNA pada ikan budidaya, diharapkan ikan tersebut akan mampu menghasilkan antibodi sehingga ikan menjadi kebal apabila terpapar virus selama masa budidaya. Dan diharapkan pula ikan yang telah divaksinasi tersebut apabila kemudian dikembangkan sebagai induk/tetua, akan menghasilkan anakan/keturunan yang tahan terhadap inveksi virus (MandongaBoy 2014).

Tuesday, 6 May 2014

Potensi Perikanan Budidaya di Sulawesi Tenggara

Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan potensi perairan laut yang luas arealnya mencapai ± 114.879 km², dengan panjang garis pantai 1.740 km. Dengan wilayah laut dan garis pantai yang cukup luas menjadikan Sulawesi Tenggara sebagai salah satu wilayah dengan potensi budidaya perikanan laut yang sangat potensial untuk dikembangkan. Potensi budidaya laut berpeluang untuk pengembangan berbagai komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting, antara lain rumput laut, mutiara, ikan kerapu, ikan kakap, ikan putih/kuwe, teripang, lobster, kerang-kerangan dan potensi laut lainnya (MandongaBoy 2014).
Akan tetapi, potensi perikanan budidaya tersebut belum termanfaatkan secara optimal. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) Provinsi Sultra menunjukkan bahwa baru sekitar ± 24.667,03 hektar potensi budidaya laut yang termanfaatkan dari total potensi ± 396.915 hektar.

Peta Provinsi Sulawesi Tenggara

Budidaya Rumput Laut
Rumput laut (seaweed) adalah komoditas unggulan perikanan budidaya yang produksinya terbesar diantara komoditas unggulan lainnya. Hal ini dikarenakan rumput laut sangat mudah untuk dibudidayakan, teknologi budidayanya telah dikuasai dan mudah untuk diaplikasikan, biaya produksi yang relatif murah dan terjangkau. Bahkan saat ini, dapat dikatakan bahwa rumput laut telah menjadi komoditas budidaya di semua provinsi di Indonesia, termasuk Sulawesi Tenggara.
Salah satu jenis rumput laut yang saat ini banyak dikembangkan di perairan Sulawesi Tenggara yaitu jenis Eucheuma cottonii. Rumput laut dibudidayakan hampir di pesisir setiap kabupaten, diantaranya Konawe Selatan (Konsel) yang luas lahan budidaya 3.210 hektar dengan produksi rumput laut 275,256.41 ton, Konawe Utara yang luas lahan budidaya 514,5 hektar dengan realisasi produksi 6.076,98 ton dan Kota Kendari yang memiliki luas lahan 182 hektar, dengan produksi mencapai 3,288.83 ton pada tahun 2011 (DKP Sulawesi Tenggara 2012), Kota Bau-Bau dengan luas areal perairan yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan budidaya rumput laut berkisar 960 ha di sepanjang garis pantai potensial, memberikan sumbangan sebesar Rp. 12,99 juta (baubaukota.go.id). Seiring terus menjamurnya usaha budidaya rumput laut di Sulawesi Tenggara, berdampak posistif dengan munculnya lokasi-lokasi baru sentra budidaya rumput laut, diantaranya Kabupaten Muna, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Kolaka Utara, Kabupaten Konawe dan Kabupaten Bombana (MandongaBoy 2011).


Menurut laporan tahunan data statistik perikanan 2011, DKP Provinsi Sulawesi Tenggara, produksi rumput laut Sultra mengalami peningkatan produksi yang sangat besar. Produksi rumput laut di tahun 2007 mencapai 81.787 ton, tahun 2008 sebesar 123.486 ton, tahun 2009 sebesar 185 ribu ton, tahun 2010 sebesar 518 ribu ton, dan meningkat di tahun 2012 mencapai 639 ribu ton.

Tabel 1. Data Produksi Rumput Laut Per Kabupaten/Kota di Sulawesi Tenggara Tahun 2012.
No.
Kab/Kota
Produksi (ton)
1
Kota Kendari
95,00
2
Kota Bau - Bau
118,59
3
Konawe

8.343,75
4
Buton

21.854,24
5
Muna

17.629,85
6
Kolaka

218.878,80
7
Konawe Selatan
299.244
8
Wakatobi
6.315
9
Bombana
45.240
10
Kolaka Utara
7.100
11
Konawe Utara
6.282,10
12
Buton Utara
8.090,87





Budidaya Kerang Mutiara
Mutiara merupakan salah satu komoditas sektor perikanan budidaya yang bernilai ekonomis tinggi dan memiliki prospek pengembangan usaha di masa mendatang, seperti terlihat dari peningkatan permintaan perhiasan dari mutiara dan harganya yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Saat ini, harga mutiara budidaya Indonesia berkisar 4.000 yen per momme (3,75 gram) atau sekitar Rp. 414.000.

Sulawesi Tenggara merupakan salah satu daerah penghasil mutiara jenis South Sea Pearls, “Ratunya Mutiara” yang berasal dari kerang Pinctada maxima, baik dari hasil alam maupun budidaya. Mutiara yang dihasilkan oleh Pinctada maxima mempunyai ukuran yang besar dengan kilau khas. SSP dari P. maxima memiliki keunikan warna maupun kilaunya yang mempesona dan abadi sepanjang masa, sehingga sangat digemari di pasar internasional, dan biasanya diperdagangkan dalam bentuk loose dan jewelry (perhiasan).
Budidaya kerang mutiara di Sulawesi Tenggara menghasilkan butiran mutiara yang diekspor ke luar negeri. Usaha ini selain menyerap tenaga kerja, juga merupakan usaha menggali kekayaan laut yang belum sepenuhnya dikelola. Sayangnya usaha ini membutuhkan modal yang besar, dan penelitian yang lebih mendalam untuk dapat menghasilkan anakan calon induk (MandongaBoy 2011). Sebab selama ini, pengelola masih dibatasi dengan ketergantungan pada calon indukan yang didapat dari alam.
Salah satu lokasi budidaya kerang mutiara di Prov. Sultra yakni di Kecamatan Pasir Putih dan Pulau Kayu Angin, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Namun, belum ada data produksi mutiara dari wilayah ini yang dipublikasikan.
Kab. Buton. Ada dua jenis budidaya mutiara yang kini dibudidayakan dan berkembang di Kota Bau-bau, yaitu Pinctada maxima yang menghasilkan mutiara bundar (round pearl) dan jenis Pteria penqu yang menghasilkan mutiara blister (haft pearl). Jenis Pinctada maxima diusahakan oleh PT. Tiara Indo Pea, sebuah perusahaan PMA dari Jepang. Sedangkan jenis Pteria penqu selain diusahakan oleh perusahaan nasional (CV. Selat Buton) juga banyak dibudidayakan oleh para petani setempat. Produksi mutiara Kab. Buton pada tahun 2012 mencapai 469,92 kg (DKP Sultra 2012).
Budidaya Karamba
            Budidaya sistem karamba merupakan salah satu komoditi unggulan Provinsi Sulawesi Tenggara pada sektor perikanan budidaya. Luas lahan budidaya karamba jaring apung di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) yang dimanfaatkan oleh petani saat ini baru mencapai 95,7 hektare dari potensi yang mencapai 200 hektare. Pada budidaya karamba dikembangkan beberapa jenis ikan ekonomis penting seperti kerapu, ikan putih/kuwe dan baronang.
Selama ini, produksi budidaya ikan karamba jaring apung dan karamba jaring tancap di Kendari dalam setahun baru mencapai 3,5 sampai 5,0 ton. Sedangkan untuk produksi total provinsi Sultra mencapai 9 ton pada tahun 2006, pada tahun 2007 mencapai 458 ton, dan meningkat menjadi 548.84 ton pada tahun 2012.

Budidaya Teripang Pasir
Teripang atau ketimun laut termasuk ke dalam kelas Holothuroidea merupakan salah satu produk perikanan yang telah lama dikenal dan dikonsumsi oleh masyarakat pesisir di Indonesia, dan juga sangat dikenal di negara Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat. Selain bernilai ekonomis, kandungan nutrisinya cukup tinggi: kandungan protein 43,1 %, lemak 2,2 %, kadar air 27,1 %, kadar abu 27,6 %, dan kalsium, natrium, phospor serta mineral lainnya 1,2 - 16,5%. Di pasaran internasional teripang dikenal dengan nama teat fish atau gamat, karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan sehat untuk dikonsumsi menyebabkan permintaan dunia akan komoditi ini terus meningkat dari tahun ketahun.
Jenis teripang yang banyak dibudidayakan adalah Holothuria scabra atau lebih dikenal dengan nama teripang pasir atau teripang putih atau teripang kapur (teripang susu). Teripang pasir banyak ditemukan di perairan jernih dengan dasar berpasir, hancuran batu karang dan di sekitar terumbu karang. Harga teripang di pasar lokal berkisar Rp 30.000 – Rp 150.000 per kg, sedangkan di pasar internasional berkisar antara Rp. 180.000 – Rp. 660.000 per kg kering bergantung jenis,  ukuran dan kualitas pengolahannya (MandongaBoy 2014).

Budidaya teripang telah lama dilakukan oleh masyarakat kita khususnya yang bermukim di daerah pesisir termasuk di daerah Sulawesi Tenggara. Seiring dengan dikuasainya teknologi pembenihan dan pembesaran teripang, maka usaha budidaya teripang pun ikut mengalami peningkatan. Dalam waktu enam bulan pemeliharaan dari benih ukuran 100 – 150 g (berat basah), teripang pasir dapat mencapai berat 600 – 700 g (berat basah) saat panen. Bahkan teripang pasir dapat mencapai ukuran 1500 g apabila dipelihara pada kedalaman 5 – 6 meter selama enam bulan.
Lokasi pembudidayaan teripang pasir di Sulawesi Tenggara meliputi Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Muna. Data produksi teripang di beberapa daerah sebagai berikut:
  • Kab. Kolaka, 3,7 ton pada tahun 2003 menjadi 7,02 ton pada tahun 2007 (DKP Kab. Kolaka, 2007), dan mencapai 14,6 ton pada tahun 2012 
  •  Kab. Muna, tahun 2012 mencapai 0.59 ton kering.

Masih kurangnya pemanfaatan potensi lahan budidaya perikanan (kurang dari 10%) sebagaimana telah dijelaskan di atas, memerlukan perhatian khusus dari segala pihak baik masyarakat, peneliti dan juga pemerintah. Dengan partisipasi seluruh elemen tersebut serta promosi potensi wilayah maka diharapkan akan dapat mengundang ketertarikan investor baru, menciptakan peningkatan peluang dan kemampuan usaha yang telah berlangsung sebelumnya, serta berpeluang membuka usaha baru di bidang budidaya perikanan. Sehingga akan menciptakan masyarakat terutama petani budidaya perikanan yang sejahtera, yang selanjutnya akan berdampak pada pembangunan dan kemajuan daerah di Sulawesi Tenggara (MandongaBoy 2014).