Showing posts with label Kerapu. Show all posts
Showing posts with label Kerapu. Show all posts

Tuesday, 18 November 2014

Karakteristik Ikan Kerapu Sebagai Ikan Karang



Ikan kerapu merupakan jenis ikan karang yang hidup di perairan terumbu karang. Dalam perdagangan internasional jenis-jenis ikan kerapu dikenal dengan nama grouper. Terdapat sekitar 150 spesies ikan kerapu di seluruh dunia yang tersebar di berbagai tipe habitat. Dari seluruh spesies yang ada, ikan kerapu dikelompokkan dalam 7 genus dimana 3 diantaranya sudah berhasil dibudidayakan dan termasuk jenis komersial, yaitu genus Cromileptes, Plectropomus dan Epinephelus (Ahmad 2002).

Pada umunya ikan kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5-3 m, selanjutnya menginjak dewasa beruaya ke perairan yang lebih dalam antara 7-40 m. Telur dan larva ikan kerapu macan bersifat pelagis, sedangkan yang individu muda dan dewasa bersifat demersal. Habitat favorit larva dan ikan kerapu muda adalah perairan pantai dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun (MandongaBoy 2014). Parameter lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu pada temperatur 24-31oC, salinitas 30-33 ppt, kandungan oksigen terlarut >3,5 ppm dan pH 7,8-8. Perairan dengan kondisi seperti ini pada umumnya terdapat di perairan terumbu karang.

Aktivitas mencari makan merupakan kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh semua jenis ikan baik dengan menggunakan indera penglihatan, perabaan maupun penciuman. Berdasarkan kebiasaan makan, secara garis besar ikan dapat diklasifikasikan sebagai ikan herbivora, omnivora dan karnivora (Nybakken 1988). Ikan kerapu adalah termasuk jenis ikan karnivora dan cara makannya “menggerus”. Jenis ikan yang sering dimakan adalah ikan tembang, teri dan belanak. Pada umumnya ikan karnivora mempunyai gigi untuk menyergap, menahan dan merobek mangsa. Jari-jari tapis insangnya menyesuaikan untuk penahan, memegang, memarut dan menggilas mangsa. Ikan karnivora mempunyai lambung benar, palsu dan usus pendek, tebal dan elastic (Effendie 2002).

Kebanyakan jenis ikan komersial penting, termasuk jenis-jenis kerapu dan napoleon melakukan aktivitas reproduksi dalam suatu pemijahan massal (spawning aggregation) yang melibatkan puluhan hingga puluhan ribu individu (Sadovy 1996). Pemijahan massal (spawning aggregation) adalah kelompok spesies ikan yang sama yang berkumpul untuk tujuan pemijahan, dimana denstitas dan jumlah ikan secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan densitas dan jumlah ikan di lokasi agregasi tersebut pada saat tidak dalam masa reproduksi (Domeier & Colin 1997). Banyak ikan karang konsumsi berkumpul dalam jumlah besar pada lokasi, musim dan fase bulan yang spesifik untuk memijah (Sadovy 1996). Pada umumnya lokasi dan waktu agregasi selalu tetap pada jangka waktu yang lama sehingga kumpulan ikan ini menjadi target yang mudah bagi aktivitas penangkapan musiman (Sadovy 1997).

Jenis ikan kerapu umumnya merupakan hermaprodit protogini (Shapiro 1987 dalam Levin & Grimes 1991). Juvenil kerapu biasanya memiliki jenis kelamin betina, dan individu jantan terbentuk pada saat betina dewasa berubah kelamin (Levin & Grimes 1991). Selanjutnya Levin & Grimes (1991) menjelaskan bahwa eksploitasi terhadap lokasi pemijahan massal akan berimplikasi secara nyata terhadap ekologi reproduksi ikan kerapu. Jika individu yang lebih tua dan berukuran besar lebih rentan terhadap penangkapan, maka proporsi jantan dalam populasi akan menurun. Hilangnya individu dewasa menyisakan individu muda yang belum memiliki pengalaman untuk melakukan pemijahan di lokasi pemijahan massal tradisional seperti dilakukan pendahulunya, sehingga lokasi pemijahan massal tersebut dapat menghilang pada akhirnya. Kalau pun lokasi pemijahan tersebut masih berfungsi, penurunan jumlah individu jantan menyebabkan keterbatasan sperma yang dapat mengganggu keberhasilan pemijahan (Shapiro et al. 1994).

Reproduksi dan rekruitmen merupakan dua momen penting dan kritis dalam siklus hidup spesies ikan. Sering, dalam proses ini melibatkan perpindahan antara wilayah, dan beberapa spesies, melakukan migrasi ke daerah pemijahan utama (SEAFDEC 2006). Kebanyakan populasi ikan kemudian menjadi rentan terhadap dampak aktivitas penangkapan yang beroperasi di daerah pemijahan (spawning ground) dan di daerah pengasuhan (nursery ground) dimana masing-masing terdapat stok induk dan juvenil yang melimpah.

Sunday, 19 October 2014

Tingkat Kematangan Gonad Ikan Kerapu Sunu (Plectropomus leopardus)


Tahapan penting pada siklus reproduksi ikan adalah proses pematangan gonad yaitu tahapan perkembangan gonad sebelum dan sesudah memijah. Selama proses reproduksi sebagian energi dipakai untuk perkembangan gonad dan bobot ikan akan mencapai maksimum sesaat sebelum memijah kemudian menurun dengan cepat selama proses pemijahan berlangsung sampai selesai. Pertambahan bobot gonad betina pada saat stadium matang gonad mencapai 10–25% dan jantan 5-10% dari bobot tubuh. Lebih lanjut dikemukakan bahwa semakin bertambahnya tingkat kematangan gonad, telur yang ada dalam gonad akan semakin besar (Effendie 2002). Kematangan gonad ikan dicirikan dengan perkembangan diameter rata-rata telur dan pola distribusi ukuran telurnya (Romimohtarto dan Juwana 2001).

Perkembangan gonad ikan secara garis besar dibagi atas dua tahap perkembangan utama yaitu tahap pertumbuhan gonad sampai ikan mencapai tahap dewasa kelamin dan tahap pematangan produk seksual. Perkembangan gonad ikan betina (ovarium) terdiri atas beberapa tingkat yang dapat diamati secara mikroskopis dan makroskopis. Secara mikroskopis perkembangan telur diamati untuk menilai perkembangan ovarium antara lain tebalnya dinding indung telur, keadaan pembuluh darah, inti butiran minyak, vesikula dan kuning telur. Pengamatan secara makroskopis perkembangan ovarium dengan mengamati warna indung telur, ukuran butiran telur, dan volume rongga perut ikan.

Umumnya ikan kerapu betina setelah melakukan satu kali pemijahan akan mengalami proses diferensiasi gonad dari fase betina ke fase jantan (hermaprodit protogyni) proses perubahan tersebut yaitu jaringan ovarium mengkerut kemudian jaringan Testisnya berkembang. Menurut Effendie (2002) dan Widodo (2006) ikan kerapu memulai siklus reproduksinya sebagai ikan betina fungsional kemudian berubah menjadi ikan jantan fungsional. Daur hidupnya masa juvenil hermaprodit, masa betina fungsional, masa intersex, dan masa terakhir adalah jantan fungsional. Perkembangan ikan kerapu yang bersifat hermaprodit protogyni dapat diamati secara morfologi. Melalui perkembangan perubahan oogenesis, dapat dibagi menjadi 10 kelas yaitu kelas 1 adalah gonad yang tidak masak ; kelas 2, 3 dan 4 adalah tahap perkembangan masak gonad pada ikan betina. Tahap perkembangan jantan pada kelas 7, 8, 9 dan 10 (Tan dan Tan 1974). Klasifikasi perkembangan gonad ikan kerapu dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Tahap perkembangan gonad ikan kerapu
Kelas
Keterangan
1
Ovari tidak matang didapatkan oocyt tingkat 1 dan 2 bila tidak terdapat Jaringan yang mengkerut menunjukkan belum pernah terjadi pemijahan
2
Betina dengan ovary matang beristirahat terdapat oocyt tingkat 1, 2,
dan 3, mungkin terdapat jaringan mengkerut sisa pemijahan dulu
3
Betina matang aktif kebanyakan oocyt tingkat 3 dan 4 dan secara morfologi ovary berkembang mudah dikenal
4
Betina pasca pemijahan kelas ini susah didapatkan
5
Transisi sukar dikenal dari luar gonad terlihat mengkerut dan di dalamnya kosong jaringan mengkerut banyak didapatkan pada bagian tengah
6
Testis tidak matang hampir sama dengan kelas sebelumnya banyak didapatkan kerutan
7
Testis menuju masak didapatkan kelompok kantung spermatogonia spermatocyt 1 dan 2
8
Testis masak banyak spermatocyt 1 dan 2 didapatkan pula sperma di dalam kantung
9
Testis masak sekali banyak didapatkan spermatozoa di dalam kantung spermatocyt tingkat awal sangat jarang
10
Testis pasca pemijahan kantung sperma umumnya kosong
Sumber : Tan dan Tan (1974)

Friday, 3 October 2014

Biologi Ikan Kerapu Sunu (Plectropomus leopardus)

Kerapu sunu (Plectropomus leopardus) termasuk hermaphrodite protogynous, yaitu proses deferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan setelah mencapai ukuran tertentu (Effendie 2002; Widodo 2006). Perubahan kelamin terjadi pada saat panjang total ikan berukuran antara 42-62 cm, dan untuk mencapai dewasa membutuhkan waktu 2-3 tahun dengan berat >2.5 kg (Elevati dan Aditya 2001).

Larva dan ikan kerapu muda hidup di perairan pantai dengan dasar pasir berkarang atau padang lamun dengan kedalaman 0.5–3.0 m. Telur dan larva bersifat pelagis sedangkan yang muda dan dewasa bersifat demersal dan beruaya ke perairan kedalaman 7–40 m pada siang dan sore hari (Tampubolon & Mulyadi 1989). Beberapa spesies hidup pada kedalaman 100-200 m bahkan sampai kedalaman 500 m, tetapi umumnya ikan kerapu hidup pada kedalaman kurang dari 100 m (Philip dan Randall 1993). Perairan dengan parameter lingkungan yang umum yaitu temperatur 24–31 0C, salinitas 30–33 ppt, kandungan oksigen terlarut >3.5 ppm dan pH 7.8–8.0 cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu (Setiadi dan Tridjoko 2001).

Kebiasaan makan ikan kerapu termasuk jenis ikan karnivora dan makan dengan cara menggerus targetnya yaitu ikan tembang, teri, belanak, crustacea, dan cephalopoda. Termasuk ke dalam predator yang dominan dan tergolong ikan buas, hidup soliter, dan menetap (sedentary). Umumnya ikan karang merupakan jenis ikan yang menetap atau relatif tidak berpindah tempat dan pergerakannya mudah dijangkau (Utojo et al. 1999). Umumnya ikan karnivora mempunyai gigi untuk menyergap, menahan, dan merobek mangsa. Jari-jari insang sebagai penahan, memegang, memarut dan menggilas mangsa. Ikan kerapu mempunyai lambung sejati dan lambung palsu, usus pendek, tebal dan elastis (Yeeting et al. 2001; Effendie 2002).

Tuesday, 23 September 2014

Mengenal Kerapu Sunu (Plectropomus leopardus)




Kerapu sunu atau kerapu merah (Plectropomus leopardus) merupakan komoditas ekspor yang harganya cukup tinggi. Dua jenis kerapu sunu yang bernilai tinggi dan terdapat di Indonesia yaitu P. leopardus (leopard corral trout) dan P. maculatus (barred cheek corral trout). Spesies kerapu dari genus Plectropomus yang dapat dibudidayakan dan memiliki nilai jual cukup tinggi adalah ikan kerapu sunu atau kerapu merah (Plectropomus leopardus). Harga jenis P. leopardus hidup mencapai sekitar US$ 30-50/kg pada tahun 2010. Jenis P. leopardus banyak dibudidayakan karena pertumbuhannya lebih cepat dari jenis ikan kerapu lainnya, benihnya mudah diperoleh dari alam (penangkapan) dan teknik pemijahan telah dikembangkan.


Ikan kerapu hidup pada perairan tropis dan sub tropis di ekosistem terumbu karang, perairan berlumpur, dan hutan bakau termasuk dalam family Serranidae. Di dunia internasional, kerapu dikenal dengan nama grouper, trout, rock-cod, hinds, sea basses dan coral reef fish. Terdapat 15 genus dan mencakup 159 spesies (Heemstra & Randal 2005; Tucker 1999). Genus Cromileptes, Plectropomus dan Epinephelus merupakan 3 genus komersial yang telah berhasil dibudidayakan (Kordi 2001; Ahmad 2002). Tersebar luas di Pasifik barat mulai Jepang bagian selatan sampai pulau Guam, Kaledonia Baru, Kepulauan Australia bagian selatan serta laut India bagian timur. Di Indonesia banyak ditemukan di wilayah Perairan Teluk Banten, Ujung Kulon, Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu, Kepulauan Karimunjawa, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara (Heemstra dan Randall 2005).




Beberapa jenis kerapu telah diidentifikasi berdasarkan pada morfologi yang berbeda-beda tiap jenisnya termasuk bentuk tubuh, ukuran sirip, bentuk kepala, jumlah jari-jari sirip, gurat sisik, dan gill raker. Beberapa jenis kerapu dewasa dengan ukuran besar pola pewarnaan cukup untuk membedakan spesies tertentu. Spesies yang hidup di perairan dalam memiliki pola pewarnaan lebih kemerahan dibanding spesies yang tertangkap di perairan dangkal. Jenis kerapu yang bisa diidentifikasi diantaranya kerapu sunu yaitu, badan ikan memanjang tegap, kepala dan badan serta bagian tengah dari sirip berwarna abu-abu kehijau-hijauan, cokelat, merah, atau jingga kemerahan dengan bintik-bintik biru yang berwarna gelap pada pinggirnya. Bintik-bintik pada kepala dan bagian depan badan sebesar diameter bola matanya atau lebih besar (M'Boy 2014). Ujung sirip ekor ikan kerapu sunu berbentuk rata, dan pada ujung sirip tersebut terdapat garis putih adapun pada sirip punggung terdapat duri sebanyak 7-8 buah. Laju pertumbuhan kerapu sunu bervariasi menurut kelas umurnya. Pada stadia awal perkembangannya, laju pertumbuhan ikan kerapu sunu berlangsung cepat, yaitu 0.81 mm/hari dalam waktu 6 bulan sudah mencapai ukuran panjang total 14 cm. Pada stadia larva ikan ini termasuk pemakan plankton perubahan sifat menjadi karnivora terjadi sejak mencapai stadia juwana. Menjelang dewasa ikan ini tergolong jenis ikan predator yang memangsa ikan-ikan kecil, udang, dan cumi-cumi (M'Boy 2014).