Tuesday, 18 November 2014

Interaksi Ikan Karang dan Terumbu Karang

Kawasan terumbu karang mempunyai struktur habitat yang kompleks dan ini menyediakan banyak ruang sebagai tempat perlindungan bagi berbagai spesies ikan (Connell 1978). Banyak penelitian telah dilakukan untuk melihat pengaruh kompleksitas habitat terhadap populasi ikan terumbu karang, namun hasil yang didapat berbeda-beda dari beberapa kajian yang dilakukan (Chabanet et al. 1997; Gratwicke and Speight 2005).

Kajian utama yang dilakukan adalah melihat pengaruh penutupan karang hidup terhadap populasi ikan karang. Banyak peneliti mendapatkan bahwa tutupan karang hidup mempunyai pengaruh positif terhadap keanekaragaman spesies dan kelimpahan individu ikan karang (Carpenter et al. 1982; Chabanet et al. 1997). Penelitian juga dilakukan untuk melihat dampak penutupan karang hidup terhadap beberapa suku tertentu, terutama dengan Suku Chaetodontidae, yang dijadikan sebagai bioindikator untuk suatu kawasan karang (Reese 1981). Ini karena suku ini adalah organisme pemakan karang (corallivorous) dan diketahui mempunyai korelasi yang positif dengan penutupan karang hidup (Bouchon-Navaro and Bouchon 1989), dan jika kawasan perairan karang terganggu, akan berdampak langsung kepada suku ini dan seterusnya akan mengurangi kelimpahan individu (Sano et al. 1987).

Keberadaan ikan karang pada suatu daerah terumbu karang secara langsung dipengaruhi oleh kesehatan terumbu atau persentase penutupan karang hidup yang berhubungan dengan ketersediaan makanan, tempat berlindung dan tempat memijah bagi ikan (Sukarno et al. 1983). Distribusi dan kelimpahan komunitas ikan karang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor biologi dan fisik seperti gelombang, beban sedimen, kedalaman perairan serta kompleksitas topografi (rugosity) dari substrat terumbu karang (Sano et al. 1984, Galzin et al. 1994, Chabanet et al. 1997).

Secara ekologi, perkembangan ikan karang disebabkan karena beberapa faktor, yaitu (1) mobilitas dan ukuran ikan, yaitu ikan karang umumnya relatif tidak berpindah-pindah (sedentary) dan berukuran relatif kecil; (2) aksesibilitas (habitat yang mudah dicapai), yaitu perairannya relatif dangkal, berada di lingkungan yang hangat dan jernih dibandingkan dengan perairan yang lain; (3) skala pemanfaatan ruang/habitat, yaitu ikan karang baik larva maupun dewasanya hidup di perairan yang relatif dangkal, dekat dengan substrat yang solid dan dekat dengan daratan, siklus hidup ikan karang umumnya telah diketahui dan banyak diantaranya hidup hanya beberapa tahun walaupun beberapa ada yang bisa berumur panjang (Suharti 2005).

Namun demikian, terdapat juga kajian yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kompleksitas habitat dengan populasi ikan karang (Luckhurst dan Luckhurst 1978; McManus et al. 1982). Risk (1972), Luckhurst dan Luckhurst (1978) juga mendapati tidak terdapat adanya korelasi yang signifikan antara komunitas ikan karang dan keanekaragaman habitat dan spesies karang. Luckhurst dan Luckhurst (1978) juga menunjukkan tidak terdapat korelasi antara kondisi karang hidup dan kelimpahan ikan yang hidup dan bersembunyi di kawasan terumbu karang. Chabanet et al. (1997) juga menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kelimpahan individu ikan karnivora dan ikan pemakan plankton dengan kompleksitas habitat.

Beberapa faktor yang menyebabkan hasil yang berbeda untuk hubungan antara populasi ikan karang dan habitatnya adalah penggunaan kumpulan taksonomi dan kumpulan ikan yang berbeda serta keragaman metode yang digunakan (M'Boy 2014). Selain itu, hubungan antara populasi ikan dan substrat juga berbeda diantara habitat dan kawasan karang serta kawasan biogeografi yang berlainan (Chabanet et al. 1997; Gratwicke dan Speight 2005).

Mengenal Jenis Ikan Karang



Ikan karang merupakan jenis ikan yang umumnya menetap atau relatif tidak berpindah tempat (sedentary) dan pergerakannya relative mudah dijangkau. Jenis substrat untuk dijadikan habitat biasanya pada karang hidup, karang mati, pecahan karang dan karang lunak (Suharti 2005). Berdasarkan periode aktif mencari makan, ikan karang dapat dikelompokkan menjadi 3 (Adrim 1983; Terangi 2004), yaitu:

1) Ikan nocturnal
Adalah jenis ikan karang yang aktif ketika malam hari. Ada sekitar 10% jenis ikan karang yang memiliki sifat nokturnal. Ikan ini bersembunyi di celah-celah karang atau gua karang sepanjang siang hari dan akan muncul ke permukaan air untuk mencari makan pada malam hari. Contohnya pada ikan-ikan dari Suku Holocentridae (swanggi), Suku Apogonidae (beseng), Suku Hamulidae, Priacanthidae (bigeyes), Muraenidae (eels), Serranidae (jewfish) dan beberapa dari Suku Mullidae (goatfish).

2) Ikan diurnal
Adalah jenis karang yang aktif di siang hari. Meliputi sekitar 75% ikan yang hidup di daerah terumbu karang. Sebagian dari ikan-ikan ini berwarna sangat menarik serta umumnya sangat erat berkaitan dengan terumbu karang, contohnya ikan dari Suku Labridae (wrasse), Chaetodontidae (butterflyfishes), Pomacentridae (damselfishes), Scaridae (parrotfishes), Acanthuridae (surgeonfishes), Bleniidae (blennies), Balistidae (triggerfishes), Pomaccanthidae (angelfishes), Monacanthidae, Ostracionthidae (boxfishes), Tetraodontidae, Canthigasteridae dan beberapa dari Mullidae (goatfish).

3) Ikan crepuscular
Adalah jenis-jenis ikan karang yang aktif pada pagi hari atau pada sore sampai menjelang malam), contohnya pada ikan-ikan dari Suku Sphyraenidae (barracudas), Serranidae (groupers), Carrangidae (jacks), Scorpionidae (lionfishes), Synodontidae (lizardifishes), Carcharinidae, Lamnidae, Spyrnidae (sharks) dan beberapa dari Muraenidae (eels).

Ada beberapa ikan karang yang umumnya berukuran kecil dan sangat pandai menyamarkan dirinya dan menghabiskan sebagian besar waktunya bersembunyi di dalam struktur karang yang kompleks. Jenis ikan karang ini juga sering disebut ikan yang bersifat kriptik (tidak mudah dilihat). Berdasarkan karakteristik habitat, sebagian kecil ikan di terumbu karang hidupnya menguburkan diri di pasir, lumpur atau pecahan karang (rubble), contohnya ikan bloso (Saurida spp), ikan lidah/sebelah (Suku Cynoglossidae) dan sebagian ikan gobi (Suku Gobiidae) (MandongaBoy 2014). Sebagian kelompok ikan berlindung dan menjelajah di terumbu karang yang termasuk di dalamnya adalah ikan butana (herbivora), dan kelompok karnivora seperti ikan kakap dan ikan kerapu (Adrim 1983). Banyak jenis ikan karang yang hidupnya soliter, berpasangan atau berkelompok (schooling) baik dalam jumlah kecil maupun besar. Ini merupakan suatu strategi terutama bagi ikan yang hidupnya lebih banyak menjelajah kolom air terbuka (Suharti 2005).

Monday, 27 October 2014

Perkembangan Gonad, Musim Pemijahan, Aktivitas Pemijahan dan Perkembangan Awal Benih Ikan Pelangi Arfak (Melanotaenia arfakensis)

Kematangan secara seksual ikan famili Melanotaeniidae mulai berlangsung pada akhir tahun pertama masa hidupnya (Allen et al. 2000). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Manangkalangi dan Pattiasina (2005) menemukan bahwa Melanotaenia arfakensis mulai matang gonad pada kisaran umur 0.97 – 1.19 tahun pada individu jantan dan 1,13-1,43 tahun pada individu betina, sedangkan M.s. fluviatilis mulai matang gonad pada kisaran umur 10-12 bulan (Milton & Arthington 1984) dan M.s. splendid pada umur berkisar diantara 6-12 bulan (Beumer 1979).

Informasi tahap perkembangan gonad dan indeks gonado somatik (IGS) menunjukkan bahwa M.s. fluviatilis memiliki siklus reproduksi musiman di Enoggera Creek dengan puncak aktivitas pemijahan berlangsung pada akhir bulan September sampai awal bulan Oktober (Milton & Arthington 1984). Pada M.s. splendi, M. eachamensis dan C. rhombosomoides, walaupun memperlihatkan periode puncak aktivitas reproduksi yang hampir sama dengan M.s. fluvi atilis, yaitu selama bulan Agustus-November (musim kering), namun pemijahan berlangsung sepanjang tahun. Waktu pemijahan yang lama ini juga dibuktikan dengan kehadiran larva sepanjang tahun pada beberapa lokasi di sungai Johnstone dan dengan kelimpahannya yang paling besar ditemukan pada periode puncak pemijahan (Pusey et al. 2001).

Pemijahan family Melanotaeniidae berlangsung secara berpasangan pada daerah perairan yang terdapat vegetasi (Allen et al. 2000) dan biasanya terjadi pada waktu pagi hari (Allen1995). Ikan pelangi umumnya memiliki fekunditas yang kecil dengan ukuran diameter telur cukup besar. Telur-telur yang telah dibuahi diletakkan pada tumbuhan air dengan menggunakan benang perekat (Allen et al. 2000) pada kedalaman sekitar 10 cm dari permukaan dan dalam kondisi berkelompok diantara 3-10 (Milton & Arthington 1984).

Pada suhu 26-27oC, telur-telur ikan M.s. fluviatilis akan menetas dalam 6-7 hari (Backhouse & Frusher 1980) dan pada ikan M.s. splendida 7-12 hari (Beumer1979). Juvenil akan tetap tinggal di sekitar tumbuhan air selama sekitar dua hari dan selanjutnya berenang bebas setelah sembilan hari (Munro 1980). Oleh karena itu, tersedia waktu yang cukup bagi telur dan larva untuk berkembang sehingga bisa melewati periode yang rentan terhadap kekeringan atau gangguan yang disebabkan fluktuasi permukaan air (Milton dan Arthington 1984).

Sunday, 19 October 2014

Morfologi dan Penyebaran Ikan Pelangi Arfak (Melanotaenia arfakensis Allen)

Morfologi ikan pelangi Arfak (Melanotaenia arfakensis Allen) berdasarkan Allen (1991; 1995) dan Nelson (2006) sebagai berikut. Bentuk tubuh pipih menyamping (compressed); terdapat dua sirip punggung yang terpisah oleh celah yang sempit diantaranya, sisik di bagian depan sirip punggung : 15-18; sisik di bagian pipi 13-17; perbandingan tinggi tubuh yang paling tinggi pada individu jantan terhadap panjang baku 34,0-38,7%; warna secara umum lembayung muda dengan garis kebiru-biruan di bagian sisi tengah tubuh, terdapat garis-garis tipis berwarna kuning-orange  diantara setiap barisan sisik yang membujur dan pada dasar sirip ekor sebagian besar berwarna kekuningan. Sirip punggung kedua dengan bagian tepi berwarna hitam dan dibatasi dengan warna putih; tepi bagian atas dan bawah sirip ekor dengan lintasan berwarna hitam. Ukuran panjang baku maksimum sampai sekitar 80mm. Karakter seksual sekunder pada ikan pelangi meliputi karakter dimorfisme dan dikromatisme seksual. Kedua karakter ini sangat jelas terlihat, terutama pada individu yang berukuran cukup besar. Individu jantan memiliki tubuh yang lebih tinggi dan berwarna lebih cerah dibandingkan individu betina (Gambar2) (Allen 1991; 1995).


Gambar 1. Dimorfisme dan dikromatisme seksual pada Melanotaenia arfakensis Allen). Ket. :♂ = jantan, ♀ = betina, PB = panjang baku, TT = tinggi tubuh


Penyebaran ikan pelangi arfak pada awalnya diketahui hanya terbatas pada anak sungai dari sistem sungai Prafi, dekat Manokwari (Allen 1991), misalnya sungai Warmare, sungai Madrad, sungai Subsay, sungai Aimasi (Tapilatu & Renyaan 2005), dan sungai Nimbai (Sabariah et al. 2006). Selain itu, ikan ini juga ditemukan pada beberapa sungai lainnya, yaitu di sungai Nuni (Sabariah et al. 2005) dan sungai Asiti, sungai Appi, dan sungai Atai di Distrik Kebar (Manangkalangi & Pattiasina 2005). Hasil penelitian King (2004) mengenai habitat ikan pelangi lainnya, yaitu M. s. fluviatilis di sungai Broken (timur laut Victoria, Australia) menunjukkan bahwa beberapa tahap ontogeny (preflexion, postflexion, metalarva, juvenil dan dewasa) ikan ini terutama mendiami daerah limpasan, daerah tepi yang tenang dan daerah tepi dengan aliran lambat.